PAWARGO DI ASSA’ADAH

Pawargo.com – Serang | Hari Jumat, 4 Mei 2010 tepat pukul 20:27 WIB masuk sms yang berbunyi :
“Asslk. Mohon kehadirannya dalam acara arisan Pawargo Serang: Ahad, 6 Juni 2010 pukul 13.00, di Pak Marjuni Assa’adah Pasirmanggu Cikeusal”
SMS tersebut kemudian kusebarkan ke no HP Budhenya di Taman supaya menyebarkan ke yang lain. Kalau berdasarkan jadwal kemarin semestinya acara perkumpulan Pawargo di rumah Pak Ii – Nurkhanah, tapi karena kebetulan saat itu ada acara aqeqah putranya Pak Marjuni ya sekalian ngiras pantes mungkin, toh tempatnya juga sama saja. (rumah Pak Ii dengan Pak Marjuni hanya dibatasi tembok saja).
Minggu, kebetulan jadwal kami rada padat, Bapak mesti ke sekolah menangani proyek pembangunan gedung lab IPA, jadi rada mundur keberangkatannya, mana dari pagi hujan deras tak ada hentinya, dan untuk mengajak Wisang hanya ada satu cara yaitu harus menyenangkan hatinya dan memenuhi apa keinginannya barulah bisa diajak ikut ke Pawargo (Wisanggeni lagi seneng-senengnya memelihara ikan cupang, jadi ya ….beli dululah indukannya).

Pukul 13.30 kami baru star dari rumah, dan Alhamdulillah perjalanannya luancar banget… alias lemot gara-gara jalan kearah Pasirmanggu banyak berlobang, bekas hujan, becek, wah…. Lumayan membuat deh. Sampai di Assa’adah kami salah jalan, muter-muter cari rumah Mr Marjuni (seingatku sudah tiga kali pindah rumah) dan anehnya yang bersangkutan ga ngasih tahu lagi kalau rumahnya pindah, jadinya ya….jalan kaki kutanya sana-sini.
Rumahnya baru, tinggi letaknya, halamannya penuh dengan tanaman, dan gentengnya hijau…..wah… enak sekali ni buat nongkrong acara silaturahmi begini. Saat kami masuk di sana sudah ada Pak Sukamto lengkap beserta keluarganya, Pak Achmad Murtado Arifin, S.Ag juga lengkap dengan anak istrinya Mrs Fatkhul Jannah. Pak Sulistyo sendirian, Pak Ii dan Bu Nurkhanah udah pasti ada la wong rumahnya disebelahnya je.
Yang lain ? aduh…. Maaf Pak Prasetyo masuk kerja ship pagi jadi ya ga bisa datang, Pak H Suwarno juga ga bisa datang ada acara, Pak Sugeng ijin lagi uji kompetensi di BLK, Pak Jamburi kakinya sakit kesandung besi di proyek, Pak Kyai Enting lagi sibuk ngurusi relawan yang ke Palestina, Pak Ian juga lagi ada proyek.
Acaranya biasaalah… temu kangen gituloh, dan makan nasi rabeg (kambing yang dicacah semuanya tulang dan daging jadikan satu dimasak bumbu kecap dengan merica dan cabe yang buanyak…pokoknya mak nyoss lah, ga kalah dengan yang di bawakan sama Pak Bondan di TV, rabeg itu salah satu makanan khas orang Serang). Oh ya ada menu kambing karena ada penghuni baru namanya naufal bin Marjuni (artinya pemuda yang menjadi harapan pemudi heeee )
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, setelah acara photo bersama kamipun pamitan, dan jangan lupa jadwal pertemuan yang akan datang di rumah Pak Sugeng, MSi. Kami berharap teman-teman bisa datang semua, bagi yang sakit kami doakan semoga cepat sembuh, dan diberi kesehatan, umur panjang, dan rizki yang berkah. Amin (St Rochmah)

Kampung Reog Surabaya

Turun Temurun Seni di Kampung Reog
Published by admin on May 29, 2010 filed under ART AND CULTURE ·
Mustahil rasanya membawa topeng seberat 60 kilogram di leher hanya dengan gigi. Tetapi berkat latihan fisik dan spiritual, seorang penari reog bisa membawa topeng berbentuk kepala singa plus mahkota yang terbuat dari bulu merak. Adegan singa barong itu biasanya menjadi klimaks dalam seni pertunjukan reog. Diiringi nada salendro dan pelog yang digaungkan ketuk, kempul, genggam, kenong, ketipung, angklung, dan salompret, penari reog beraksi.

Ada lima macam tarian dalam satu paket pertunjukan reog. Awalnya musik dimainkan, kemudian muncullah warok. Laki-laki berpakaian serba hitam dengan tali putih melilit di pinggang. Tari lainnya berupa ganongan, jatilan, kelono suwandono, dan singa barong. Para warok dan penari-penari lain adalah pendamping buat singa barong. Dalam satu grup reog, bisa terdiri sampai 40 orang.

Beragam versi cerita beredar soal sejarah reog. Menurut Wikipedia, versi resminya adalah pertarungan ilmu hitam antara pasukan Raja Ponorogo dengan Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri atas merak dan singa, sedangkan Raja Kelono dari Ponorogo dikawal para warok. Tetapi tidak semua cerita dalam pertunjukan reog tentang perang. Kalau reog dipentaskan di pernikahan biasanya muncul adegan percintaan, di khitanan muncul cerita pendekar.
Sejarah reog beserta warisan budayanya berkembang di Ponorogo, ke seluruh daerah di Indonesia, bahkan sampai luar negeri. Malaysia boleh mengakui reog sebagai budaya mereka, tetapi reog yang asli tetaplah reog ponorogo. Di Surabaya, reog asli Ponorogo adanya di Jalan Gubeng Kertajaya V/ 8. Sebuah gang yang menamakan diri “Kampung Reog”. Mencarinya tidak sulit, karena di mulut gang terdapat gapura berbentuk tarian reog yang dibangun pada 1998.
Di sana, Sanggar Seni Reog Singo Mangku Joyo berdiri. Sejak 1951, turut meramaikan dunia seni Surabaya. Kalau ingin mementaskan reog dalam event tertentu, sanggar itulah yang dituju. Tak jarang turis asing datang untuk menyewa seni pertunjukan reog. Biaya pertunjukan dalam kota sekitar Rp 4 juta. Untuk luar kota, masih ditambah biaya transportasi dan akomodasi selama beberapa hari di kota tujuan.
Kini, sanggar khusus tari-tarian reog itu telah bergulir sampai ke tangan generasi ketiga. Sugianto menuturkan, sejak kecil ia sudah dibiasakan hidup untuk melestarikan reog. Kini ia menjadi pengelola sanggar, sekaligus satu dari 10 pengajar reog di sana. Meskipun kelahiran Surabaya, Sugianto mewarisi darah penari reog dari orang tuanya yang asli Ponorogo. “Di kampung ini mayoritas penduduknya asli Ponorogo, dan jadi penari reog, makanya disebut ‘Kampung Reog’,” katanya.
Sanggar Singo Mangku Joyo biasa latihan hanya setiap akan ada event atau festival. Tetapi menurut Sugianto, karena sudah terbiasa menari reog, tanpa latihan pun 40 anggotanya bisa tampil dengan baik. Sanggar itu pernah mengikuti festival di Ponorogo, Jember, Semarang, dan Jakarta. Mereka bahkan sampai tampil di Australia, Malaysia, Bangkok, dan Italia.
“Sebelum Malaysia mengakui reog saya sudah diundang pentas di sana. Jadi Malaysia itu bikin kisruh saja kalau mengakui reog budaya mereka,” komentar Sugianto menanggapi klaim budaya oleh negara tetangga.
Pria kelahiran 1963 itu membuktikan bahwa reog adalah asli budaya Ponorogo, dengan membuat sendiri semua perlengkapan reog-nya. Baik kuda lumping, topeng-topeng, maupun kepala reog. Sanggar Singo Mangku Joyo memiliki tiga kepala reog. “Tiga saja cukup. Sekarang cari kulit harimau susah, sudah jadi binatang yang dilindungi,” tuturnya. Menurut Sugianto, tidak ada persiapan khusus untuk membuat perlengkapan reog. Hanya saja, kalau mau pentas ia selalu membuat jenang sekolo (bubur merah) supaya semua selamat.
Sugianto berharap sanggar yang sekarang dikelolanya bisa terus hidup. Dua orang anaknya juga menjadi pemain reog, dan tentu saja diharapkan menjadi generasi penerus budaya seni reog. “Budaya ini harus turun temurun supaya kesenian daerah nggak putus, sekarang saja kesenian daerah banyak ditinggalkan,” kata Sugianto. Ia bangga pada keponakannya yang masih usia Taman Kanak-kanak tetapi sudah lihai menari reog.

“Untungnya sekarang kita masih dipercaya pemerintah kalau ada event atau tamu penting. Tapi ini tetap harus dilestarikan sendiri, pemerintah mosok tau ngopeni ngene-ngene. Isok’e njaluk tulung thok,” keluh Sugiarto. Maksudnya, pemerintah tidak pernah mengurusi masalah pelestarian budaya, bisanya hanya meminta tolong saat ada acara. Karena itulah Sugianto tetap ingin menurun-temurunkan seni di Kampung Reog.
rizky sekar | foto : herman dewantoro

Orang tertua di Ponorogo???

Ponorogo – Surya- Petugas sensus penduduk kembali menemukan orang dengan usia di atas satu abad.Dua perempuan warga Ponorogo diduga berusia 115 tahun dan 105 tahun. Mereka bakal menjadi warga tertua di Kabupaten Ponorogo.
Kedua perempuan itu, masih tampak sehat dan bugar. Hal itu, kemungkinan disebabkan keduanya selalu menghindari makanan daging dan gemar makan sayuran. Selain itu, keduanya juga suka makan sirih.

Kedua perempuan itu adalah Misirah, 115, warga RT 02/ RW 03, Dusun Ngedalon, Desa Ngrukem, Kecamatan Mlarak, dan Marsumi, 105, warga RT 02/RW 01, Dusun Kutu, Desa Kutu Kulon, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.
Misirah, masih aktif melayani pijat bayi dan orang dewasa di rumahnya. Selama ini, dia tak memiliki keluhan apa pun. Kakinya masih tegar berjalan, bicaranya lancar, dan penglihatannya juga jelas. Hanya saja, pendengarannya mulai kurang jelas.
Marsumi, perempuan tertua kedua di Kabupaten Ponorogo mengaku masih bisa berbicara dan mendengar. Selain itu, dia juga suka mengerjakan pekerjaaan rumah tangga pada umumnya. Hanya saja, dia tak dapat berjalan lancar karena kaki dan persendiannya terasa kaku semuanya. Marsumi memiliki 11 anak. Namun, semua sudah meninggal dunia. Sekarang dia hanya tinggal bersama anak menantunya dan 5 cucu dan 2 cicit. nwan

Gubernur Bengkulu Minta Masyarakat Jawa Lestarikan Reog

Nusantara / Minggu, 30 Mei 2010 08:49 WIB
Metrotvnews.com, Bengkulu: Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin meminta masyarakat Jawa di Provinsi Bengkulu tetap melestarikan kebudayaan leluhur, salah satunya Reog. “Meskipun tidak lagi tinggal di Jawa, saya minta masyarakat Jawa tetap melestarikan seni budaya Reog, sehingga tidak lepas dari akar budaya,” katanya saat memberikan bantuan kepada Paguyuban Reog Singo Muda Kota Bengkulu, Ahad (30/5).

Agusrin mengatakan, bantuan berupa seperangkat peralatan Reog dan kuda kepang tersebut merupakan wujud perhatian terhadap kemajemukan seni dan budaya di Provinsi Bengkulu. Apalagi tidak sedikit masyarakat Jawa yang ada di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu turut berperan membangun daerah tersebut.

“Ini sebagai bentuk perhatian dan terima kasih saya terhadap masyarakat Jawa yang ada di Bengkulu atas partisipasi membangun daerah ini sehingga bisa menjadi seperti sekarang,” katanya.

Ia mengharapkan, melalui kesenian Reog juga ikut mendorong semangat untuk menyukseskan pembangunan. Selain itu Agusrin juga berharap, masyarakat Jawa yang ada di Provinsi Bengkulu memiliki rumah Joglo sebagai tempat berkumpul dan mengadakan berbagai kegiatan.

“Saya mengharapkan ke depan masyarakat Jawa melalui paguyuban yang ada bisa memiliki rumah Joglo untuk tempat bersilaturahmi dan menggelar berbagai acara adat,” katanya.

Agusrin mengaku terbebani untuk mewujudkan itu karena selain sebagai bentuk penghargaan terhadap masyarakat Jawa, istrinya sendiri Diah Nurwiyanti Najamudin adalah asli keturunan Jawa Tengah.

Acara yang menampilkan Reog tersebut selain dihadiri ratusan masyarakat Jawa juga diikuti sepuh masyarakat Jawa, antara lain Sumardikon dan Edi Wicipto. (Ant/RIZ)

12 Hari Bekerja, Seorang TKW Ponorogo Tewas

Ponorogo, zonaberita.com – Malang benar nasib Ari Setyowati (24),warga RT 02, RW 01, Dusun Krajan, Desa Singkil, Kecamatan Balong – Ponorogo. Ia adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Singapura.
Baru 12 hari bekerja, korban jatuh dari lantai 12 di apartemen majikannya, Binte Mohammed Noor yang beralamat di di BLK, Telok Blangah Heights. Jenazah korba tiba di rumah duka, Kamis (26/5/2010)
Berita itu diketahui setelah mendapat kabar dari perwakilan PT Tistama Arga Raya (SAR) di Ponorogo. “Saya mendapat kabar kematian dari perwakilan agensi pemberangkatan,” kata Joko (27), kakak korban.

Perwakilan PT SAR memberitahukan jika adiknya tewas karena terjatuh dari lantai 12, Senin (24/5/2010) lalu. “Kami sangsi. Sebab, adik baru meninggalkan rumah 42 hari lalu dan baru bekerja selama 12 hari. Kok sudah meninggal,” terangnya.
Sebagai tanda belasungkawa, Direktur Operasional PT SAR, Ignasius Ner menyerahkan uang senilai Rp 5 juta dari PT SAR dan agensi Singapura sebesar 250 dollar Singapura ke keluarga korban. “Kalau mengenai gajinya, kami belum tahu. Sebab, korban baru bekerja selama 12 hari,” ujarnya.
Kepala Dinsosnakertrans Pemkab Ponorogo, Bedianto saat mendamping Bupati Ponorogo ke rumah duka mengusir wartawan. Menurutnya, wartawan dilarang mengetahui saat kotak mayat korban dibuka. Bedianto meminta petugas Polsek mengusir wartawan dari rumah duka saat membuka peti mayat korban.
“Kami mohon para wartawan keluar dari dalam rumah karena peti hendak dibuka. Kemungkin nanti ada sesuatu yang tidak pas kalau diberitakan,” pinta Bedianto.
Sementara itu, Bupati Ponorogo, Muhadi Suyono menegaskan meski banyak korban TKI dan TKW
asal Ponorogo yang tewas misterius di negara asing, pihaknya masih belum membutuhkan Perda untuk mengatur TKI dan TKW untuk perlindungan pahlwan devisa.”Buat apa diperdakan. Kan semua sudah diregulasi saat mereka ke negara tujuan,” tandasnya. (aya/isp)
Page 1 of 212»

Sponsor pendukung

Pawargo

Pawargo

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sukses dan sehat sejahtera selalu....

Selamat datang di Blog Paguyuban Warga Ponorogo, sebuah blog yang kami persembahkan khusus kepada warga Ponorogo di manapun saat ini berada. Apresiasi Team Kreatif Pawargo untuk memberikan informasi seputar Kota Ponorogo, dalam menghadapi perkembangan Tekhnologi dan Informasi Global. Kami mengajak kepada seluruh Warga Ponorogo untuk ikut serta meramaikan Blog ini. Mari sharing Kegiatan dan Informasi Paguyuban Warga Ponorogo di seluruh penjuru Dunia. Artikel, Photo kegiatan, Wisata kuliner khas Ponorogo, dll

silakan kirim ke email pawargo@gmail.com,

Sekian terima kasih.

Wassalammualaikum Wr. Wb