Menikmati telaga Ngebel di akhir pekan, merupakan pilihan tersendiri buat anda yang ingin santai sambil mengumpulkan energi baru. Kesibukan kantor membuat pikiran seakan panas dan keruh. Biasanya akan berpengaruh pada produktifitas kerja, bagi anda yang sudah mengalami hal demikian, tidak salahnya berkunjung ke
Telaga Ngebel Ponorogo. Sebuah telaga Alami yang berada di ujung timur kabupaten Ponorogo.
Pemandangan Telaga Ngebel sebelah utara
Nampak keramaian wisatawan di akhir pekan
Sarana hiburan Flyingfox
Parkir kendaraan yang cukup luas (nampak kendaraan berplat nomor luar kota semua)
Panggung Hiburan Telaga Ngebel (biasanya rame waktu ada acara dangdut, campursari, dll)
Pemandangan ini hanya dapat anda saksikan ketika berada di tengah telaga Ngebel
Satu-satunya Dermaga Perahu di Kabupaten Ponorogo
Cukup merogoh kantong Rp. 5.000,00 anda dapat mengelilingi telaga
Manggis adalah salah satu buah hasil bumi sekitar Telaga Ngebel
Ngomong-ngomong masalah buah yang satu ini, bagi anda penggemar durian wajib mencicipi. Meskipun buahnya kecil, tapi jangan ragukan manis dan kelezatannya Durian Ngebel. Harga relatif murah, 15 – 35 ribu perbijinya.
Hmmm, sedikit refreshing ya…. ada iklan lewat…. gadis di telaga Ngebel manis-manis (maaf pak admin sedikit ada guyonan dan cuci mata)
Nah, kalau yang ini Telaga Ngebel sudah menjadi tempat tersendiri kepada remaja yang sedang kasmaran. (huhuihui… Ati-ati mas jangan mepet Telaga…)
Rasanya belum lengkap informasi yang saya sampaikan di
Blog Pawargo.com ini. hhmmmm, bagaimana kalau langsung menuju lokasi??? Dijamin Telaga Ngebel dapat memberikan nuansa baru anda dalam menghabiskan liburan akhir pekan bersama keluarga sekalian.
*Kepada warga Kecamatan Ngebel, ayo kebersihan dan keamanan disekitar telaga lebih ditingkatkan lagi. Rame Telagane, Makmur Rakyate….(pard/10)
Pawargo.com – Menikmati suasana telaga yang masih asri dan alami adalah jadwal saya liburan minggu ini. Sebuah telaga yang berada di ujung timur Ponorogo ini masih banyak diminati
warga Ponorogo dan sekitarnya. Setiap hari minggu dan hari libur nasional, tempat ini banyak dikunjungi wisatawan. Cukup dengan membayar tiket masuk Rp. 2000,00 perorang, anda telah berada di tempat
wisata andalan kota Ponorogo.
Saat ini, pengembangan pariwisata
Telaga Ngebel kini mulai digiatkan. Terlihat beberapa perahu kecil sedang lalu lalang di tengah
Telaga Ngebel. Wisatawan dapat menggunakan fasilitas kapal tersebut dengan membayar Rp. 5000,00 perorang. Harga yang tak terlalu mahal untuk perjalanan mengelilingi telaga selama 30 menit.
Setelah anda membayar atau membeli tiket, anda akan merasakan
keindahan telaga Ngebel ini. Satu kapal mampu menampung 20 penumpang plus 1 nahkoda, untuk sewa kapal yang ukuran agak kecil wisatawan cukup mengeluarkan biaya Rp. 60.000,00. Di dalam kapal, sudah tersedia peralatan keamanan keselamatan. Beberapa pelampung sudah disiapkan oleh pengelola fasilitas daerah tersebut. (pard)
Prosesi Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel
Konon cerita yang berkembang di masyarakat, Telaga Ngebel mempunyai cerita unik yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bernama “Baru Klinting”. Sang Ular ketika bermeditasi secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Secara ajaib sang ular menjelma menjadi anak kecil yang mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.
Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Lantas dia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk Telaga Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon salah seorang pendiri Kabupaten ini yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.
Seperti yang telah saya alami beberapa waktu yang lalu, ketika bertemu dengan teman-teman
Blogger Loenpia (Semarang). Dalam acara Ambalwarsa
Kotareyog.com. Mereka bertanya tentang
asal-usul telaga Ngebel, Ponorogo. Saya pun bercerita sama dengan apa yang pernah saya dengar dari nenek moyang. Tak jauh beda dengan cuplikan artikel dari
majalah Travel Club diatas.
Ya, saya pun bangga dengan wisata Ngebel yang sangat mempesona tersebut.
Namun, ketika saya sudah bercerita tentang Telaga Ngebel, mereka bilang kok hampir sama dengan asal-usul sebuah danau di Jawa Tengah???
nah, dari sini saya masih kebingungan. Mana yang benar atau cerita sesungguhnya seperti apa???
Saya pun langsung meluncur ke
Telaga Ngebel, disana saya mencoba bertanya kepada warga setempat. Saya menanyakan,
bagaimana asal-usul Telaga Ngebel ini??? Siapa sesepuh yang masih ada di daerah Ngebel???
Dari 4 orang yang saya temui, mereka kebanyakan kurang mengetahui bagaimana cerita/legenda Telaga Ngebel tersebut.
Sesepuh di Telaga Ngebel pun sudah tidak ada saya temukan untuk mengungkap, bagaimana cerita sebenarnya….
Mungkin dari anda ada yang mempunyai/mengetahui cerita tentang Asal-usul telaga Ngebel serta prosesi acara yang dilaksanakan di sana??? Mohon sharing di sini.
PONOROGO – Nyawa Tawirah, 35, perempuan asal Semenok, Ngebel, Ponorogo, pagi kemarin (12/5) langsung melayang setelah kepalanya terhantam pohon pinus seukuran paha orang dewasa. Ranting lancip pinus yang roboh karena lapuk itu sempat menancap ke batok kepala korban.
Tawirah tewas seketika. Selain menderita luka terbuka serius, dia juga mengalami trauma kepala. Darah mengucur dari lubang hidung dan kepala. Ibu muda itu bertemu nahas sepulang dari menyabit rumput, sekitar pukul 10.00. Tatkala sedang menggendong sekeranjang rumput hasil sabitannya, pohon pinus di sisi kanannya tiba-tiba ambruk tepat menimpa kepala. ”Kayunya sudah lapuk karena habis dibakar,” ungkap Sidik, 40, warga setempat yang kali pertama memergoki mayat Tawirah.
Menilik posisi terakhir korban, dia diduga sempat menengok ke kanan saat mendengar bunyi berisik, tanda-tanda pohon hendak roboh. Namun, Tawirah sudah tak lagi memiliki kesempatan menyelamatkan diri. Tubuhnya langsung terkapar tanpa nyawa akibat pohon yang telak menimpa kepala. Pada saat kejadian, angin berhembus cukup kencang.
Kematian mendadak Tawirah itu langsung diratapi keluarganya. Apalagi, pada jam-jam kejadian, dia biasanya sudah berada di rumah. Keseharian Tawirah tiap pagi, mencari rumput untuk ternak kambingnya. Bersamaan dengan itu, warga menyesalkan pohon lapuk yang dibiarkan tetap berdiri di kawasan hutan. ”Bisa membahayakan,” ujar sejumlah warga.
Pohon pinus tumbang sebelumnya juga pernah mencabut nyawa Guru Tidak Tetap (GTT) di SDN 07 Baosan Kidul, Ngrayun, Ponorogo. Sepulang dari kantor, guru nahas yang tengah mengendarai motor Suzuki Spin Nopol AE 3402 SO itu mendadak tertimpa pohon pinus di Dusun Konto, Baosan Kidul, awal Februari lalu. Korban langsung meregang nyawa seketika.
Batang pinus berdiameter 30 centimeter yang tertanam di petak hutan 14 wilayah RPH Ngrayun itu menimpa telak ke tubuh korban. Bagian tubuh yang diduga pertama kali terkena benturan adalah tengkuk hingga tulang leher langsung patah. Rusuk korban juga dipastikan mengalami patah tulang. Belum lagi, luka terbuka di dagu, bahu kiri dan bagian wajah. (hw/sad)
Komentar terbaru