
Festival Reyog Mini Ponorogo
Ponorogo (03/08) – Kabupaten Ponorogo kembali menggelar acara besar, peringatan Hari Jadi Kabupaten dan Festival Reyog Mini se Kabupaten yang dilaksanakan di Alon-alon Ponorogo. Acara ini telah menjadi agenda rutin Pemerintah Daerah Ponorogo dalam beberapa tahun terakhir. Persiapan matang sudah nampak dilakukan oleh Panitia, terbukti dengan adanya acara-acara pendukung seperti Pameran Industri Kerajinan, Pameran Photography, Pemilihan Duta Wisata Cilik Thole Gendhuk, Pameran Tanaman Hias, Bonsai, Adenium, Pemilihan Duta Tari, dan masih banyak acara yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke 514 dan Festival Reyog Mini ke VIII resmi dibuka oleh Bapak Wakil Bupati Ponorogo AMIN,SH bertempat di pangung utama aloon-aloon Selasa Malam yang ditandai dengan penyerahan Pecut Samandiman kepada tokoh utama Klonosewandono dan dinyalakannya kembang api sebanyak 514 letusan yang merupakan jumlah dari umur kota Ponorogo, yang dilanjutkan dengan penampilan dua group reyog mini yang salah satunya adalah penampilan group reyog dari SMP Negeri 1 Ponorogo. (more…) Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke 514 dan Festival Reyog Mini ke VIII

Perjalanan Festival Reyog Nasional (FRN) sejak tahun 1995, membawa pada perkembangan bentuk pertunjukan Reyog Ponorogo. Sebuah bentuk perkembangan kesenian yang meliputi berbagai wilayah garap artistik pertunjukan. Perubahan yang cukup signifikan terjadi pada bentuk pertunjukan yang pada awalnya komunal dan akrab dengan penonton, kini menjadi format bentuk drama tari dengan pertimbangan estetika panggung yang sangat ketat.
Di balik perkembangan Festival Reyog Nasional (FRN) yang sangat pesat pada wilayah garap artistik, namun ada pula problematik yang menyertainya. Berdasarkan pengamatan dan keterlibatan selama empat tahun terakhir, saya mendapati fenomena yang cukup menarik. Sebuah fenomena jual beli paket penyajian tari Reyog juga sering terjadi dalam penyelenggaraan FRN di kabupaten Ponorogo. Contoh bentuk jual beli paket penyajian sebagai berikut : semisal ada satu grup Reyog peserta dari luar jawa yang datang ke Ponorogo saat sebelum FRN berlangsung tetapi, kedatangan mereka tidak dalam satu tim utuh.
Biasanya mereka datang hanya dua orang official yang membawa sejumlah uang untuk kemudian membeli paket penyajian tari Reyog pada salah satu sanggar di Ponorogo. Sehingga praktis grup tersebut hanya titip nama saja, dan tidak tampil dari personel mereka sendiri. Pada perkembangan 4 tahun terakhir, cukup banyak grup dari luar jawa dan bahkan grup-grup Reyog dari kecamatan lokal Ponorogo yang juga mulai melakukan praktik semacam ini.
Implikasi teknisnya adalah beberapa sanggar besar di Ponorogo bisa tampil 4 sampai 5 kali dalam satu rangkaian even FRN. Disatu sisi memang bagi teman-teman yang terlibat di sanggar, cukup memperoleh keuntungan yang luar biasa (ada yang bilang “FRN adalah saatnya panen tanggapan/pentas”), namun demikian bagaimana dengan kesenian reyog kedepannya?. Sebenarnya adanya jual beli penyajian tari Reyog sudah tercium sejak awal penyelenggaraan FRN pada tahun 1995. Hanya saja pada tahun 1995-1999 terjadi masih secara partikular, artinya jual beli tidak pada satu paket penyajian utuh, tetapi hanya pada peran-peran tertentu atau sering disebut dengan istilah pinjam-meminjam pemain (penari).
Sebuah festival yang semestinya bisa menjadi ajang sharing kreativitas dalam karya seni, telah ternodai oleh kepentingan sesaat dari segelintir orang. Jika dalam FRN jua terjadi perkembangan semacam ini, maka apakah revitalisasi (dalam arti pemberdayaan/pelestarian) pada kesenian Reyog Ponorogo bisa dikatakan berhasil? Sebuah tanda Tanya besar tentunya!
Di sini saya mengharapkan perhatian saudara sekalian, apalagi hubungannya dengan perkembangan Reyog di luar daerah Ponorogo lebih lanjut…
Dalam hal penyajian dan pengaruh perkembangan kebudayaan Reyog, BAGAIMANA SEBENARNYA PENYELENGGARAAN Festival Reyog Nasional (FRN) menurut saudara sekalian??
Maju dan berkembangnya kebudayaan Indonesia berawal dari setiap langkah kecil kita sebagai warga negara yang Bermartabat dan berbudi.
Sebuah artikel yang sengaja kami tampilkan dalam rangka perayaan Grebeg Suro 2009 dan Festival Reyog Nasional Ponorogo ke XVI.
Semoga bermanfaat.
*Dedy Satya Amijaya
[ Sabtu, 24 Oktober 2009 ]
Bocah-Bocah Perkasa dalam Seni Reog
Kesenian reyog identik dengan keperkasaan. Ada sekelompok orang menari dengan gerakan-gerakan gagah. Beberapa menampilkan atraksi mendebarkan. Segelintir lagi menandak-nandak menyunggi topeng Dadak Merak seberat puluhan kilo. Bagaimana jika itu semua dilakukan oleh bocah-bocah?
—
Agus Widianto begitu bangga pada giginya. Ya, bagi lelaki 14 tahun itu, giginya adalah peranti penting dalam memainkan Singo Barong atau Dadak Merak, patung superbesar yang melambangkan kepala singa yang berpadu dengan burung merak tersebut. Berkali-kali dia mengetuk giginya yang putih itu. Seolah menunjukkan bahwa giginya masih sangat kuat untuk menggigit Dadak Merak.
Sudah setahun terakhir Agus menari dengan Dadak Merak seberat sekitar 20 kilogram tersebut. “Awalnya kemeng (ngilu, Red),” ungkap Agus saat ditemui di tempat latihan Reog Mini Tri Guna Bhakti di Pasar Setro kemarin. Rasa kemeng itu baru hilang setelah dia berlatih empat-lima kali.
Dadak Merak alias Singo Barong tersebut memang pertunjukan wajib dalam kesenian reog Ponorogo. Itu adalah perlambang Prabu Singabarong dari Kerajaan Lodaya yang ditaklukkan Prabu Kelana Sewandana dalam perebutan putri Kediri, Dewi Sanggalangit.
Singo Barong yang sejatinya sakti itu dikalahkan oleh cambuk sakti Kelana Sewandana. Begitu saktinya cambuk tersebut, kepala Singo Barong, raja berkepala singa itu, sampai dijadikan satu dengan burung merak piaraannya. Lalu, manusia dengan kepala singa dan merak itulah yang menjadi salah satu mas kawin pernikahan Kelana Sewandana dan Dewi Sanggalangit.
Dalam pentas reog dewasa, Dadak Merak bisa selebar 2,3 meter dengan tinggi hampir 2,5 meter. Beratnya, wah, 50 kilogram alias setengah kuintal.
Nah, karena Agus berperawakan besar dan kekar dibanding sebayanya, dia didapuk memainkan Singo Barong. Tentu, ukurannya tak seperti milik pemain dewasa. Singo Barong untuk Agus bertinggi sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter, dan beratnya 20 kilogram.
Agus, siswa kelas 9 SMP itu, kali pertama menjadi barong setelah pentas di Ponorogo untuk acara Gerebek Sura 2008.
Sebelumnya, dia berperan sebagai patih Prabu Kelana Sewandana yang setia, yakni Bujangganong. Dalam sebuah versi, Bujangganong adalah penggawa yang menemani Kelana Sewandana mencari pujaan hatinya bersama prajurit berkuda. Nah, prajurit berkuda itulah yang lantas menjadi jathil atau jathilan dalam pentas reog.
Agus memang harus menerima tawaran sebagai Singo Barong itu. “Soalnya, di kelompok nggak ada yang mbarong,” ungkap Agus yang juga bisa berperan sebagai Warok tersebut.
Ketua Umum Persatuan Unit Reog Ponorogo Surabaya (Purbaya) Moch. Yatemin Gianto, yang juga ketua grup reog tempat Agus berkarya, menilai Agus sebagai pemuda yang cepat belajar. Karena itu, saat mempersiapkan tim reog untuk Festival Reog Mini Ulang Tahun Ke-513 Ponorogo, dirinya langsung mendapuk Agus sebagai pembarong. “Dia satu-satunya yang mbarong-nya lancar. Yang lain masih belum siap,” katanya saat mendampingi Agus berlatih.
Pilihan Yatemin, tampaknya, tidak salah. Sebab, penampilan perdana Agus di Festival Reog Mini mampu membawa Tri Guna Bhakti sebagai satu-satunya delegasi Surabaya yang meraih peringkat keenam se-Indonesia. Ketika kembali ke metropolis, pelatih dan Yatemin menetapkan laki-laki kelahiran 20 Agustus 1994 tersebut sebagai calon pembarong reog dewasa. “Selama anaknya mau, tidak ada yang tidak mungkin,” tambahnya.
Agus semakin mantap menjadi pembarong karena tariannya yang lebih menarik dan variatif. Gerakan Ganong, sang pendamping Prabu Kelana, dirasa kurang mengakomodasi fisiknya yang tinggi. Meski, untuk menjadi Singo Barong, dia harus berlatih keras untuk membiasakan mulutnya menggigit topeng Dadak Merak.
Kini, Agus mahir dengan berbagai gerakan Singo Barong. Gerakan bergulung hingga kayang sudah dikuasai. Padahal, saat awal mengemban tugas menjadi Barong, dia merasa kesulitan mempelajari trik berguling lantas mengangkat topeng tersebut dengan cepat.
Dalam setiap latihan, Agus pun mencoba menambah kemahirannya dalam menari. Salah satu gerakan yang menurut dia paling susah adalah gerakan mengibaskan kepala Singo Barong ke depan. Bulu-bulu merak yang menjuntai itu sering merepotkan karena membuat keseimbangannya gampang terganggu. “Sampai sekarang saya masih belum bisa gerakan ngibas ke depan karena topengnya terasa sangat berat,” ungkapnya.
Penggunaan kekuatan gaib yang kerap dilayangkan kepada pembarong juga tidak dia digunakan. Bahkan, warga Bulak Cumpat itu tidak tahu-menahu mengenai penggunaan kekuatan mistis untuk memberikan kekuatan ekstra saat mengangkat Dadak Merak dengan giginya. “Saya hanya rajin berlatih dan gosok gigi untuk menjaga kebersihan gigi supaya tetap sehat dan kuat,” jelasnya.
Berbagai peran yang pernah dia lakoni itu membuat Agus menjadi matang tampil di berbagai even pertunjukan. Berawal dari pentasnya di Balai Pemuda kali pertama pada 2007, reog telah membawanya bepergian jauh dari Surabaya menuju Ponorogo hingga dua kali. Terakhir, dia bersama tim Reog Mini Tri Guna Bhakti mewakili Surabaya dalam Festival Reog Mini di Ponorogo pada Agustus lalu.
Meski sebatas pergi ke kota asal reog, Agus tersenyum semringah. Sebab, pekerjaan ayahnya yang hanya sebagai juru parkir di RSUD dr Soetomo membuat kesempatannya untuk melancong ke luar Kota Pahlawan dirasa mustahil. “Saya ingin menyenangkan orang tua. Tidak ingin membebaninya kalau ingin jalan-jalan,” tegasnya.
Karena itu, uang Rp 35 ribu-Rp 50 ribu yang didapat setelah pementasan menjadi sangat berarti. Dia bangga bisa menghasilkan uang dengan kucuran keringatnya. “Orang tua saya bilang, ikut reog yang niat. Kalau gak niat yo mending gak usah,” ucapnya menirukan perkataan Sudiran, ayahnya.
Ucapan tersebut, tampaknya, memacu semangat Agus untuk mempelajari reog. Instrumen pengiring seperti ketipung, angklung, dan salompret yang menyuarakan nada unik membuat dirinya semakin jatuh cinta pada kesenian asli Indonesia tersebut.
Karena itu, meski di sekolahnya terdapat ekstrakurikuler marching band dan pencak silat, dia tetap memilih reog. Sejak pertama masuk ke Yayasan Sekolah Tri Guna Bhakti, dia langsung belajar sungguh-sungguh. “Meski bukan asli Ponorogo, saya bangga bisa bermain reog. Kalau bisa hingga menjadi pemain profesional,” tegasnya. Sumber : (dim/dos)
Komentar terbaru