Senin, 02 Agustus 2010 , 07:29:00
Meriah, Atraksi Reog Ponorogo di BP
BALIKPAPAN–Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-65 ini digunakan oleh warga paguyuban Pacitan untuk menampilkan pertunjukkan kesenian Reog Singo Gunung Limo yang diadakan di parkiran Balikpapan Permai (BP) kemarin.

Reyog Ponorogo
Warga pun berduyun-duyun untuk menyaksikan pertunjukkan tersebut. “Reog ini adalah kesenian rakyat yang murah meriah,” kata Ketua paguyuban keluarga Pacitan kota Balikpapan Sukadi kepada Post Metro saat ditemui di BP. Menurut Sukadi, kegiatan ini merupakan agenda rutin warga Pacitan dalam menyambut bulan suci Ramadan dan sekaligus memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-65 yang jatuh pada 17 Agustus.
Sebab banyak masyarakat yang sangat menggemari kesenian reog sehingga penampilan di parkiran BP ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk menonton pertunjukkan yang gratis dan menyenangkan. Dia menyampaikan, bahwa para pemain reog ini ada yang dari Bugis, Banjar dan bukan dari warga Pacitan saja. Sebab siapa pun akan bisa memainkan kesenian reog asalkan berlatih dengan telaten. (more…) kesenian Reog Singo Gunung Limo
MEDAN-Kesenian Reog ternyata tidak hanya ada di Ponorogo. Di Sumatera Utara pun ternyata kesenian daerah yang khas ini punya kiprah yang menggembirakan.
Pada Pesta Danau Toba 2009 kemarin, Reog Ponorogo tampil dan memukau pengunjung. Bahkan banyak orang yang tidak percaya, kalau dua jenis tari reog yang muncul sekaligus itu adalah kesenian reog ini berasal dari Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Kesenian Reog ini dikembangkan oleh Paguyuban Wali Budoyo di bawah pimpinan Wahyu Purnomo.
Wahyu Purnomo sangat gembira bisa tampil pada pesta Danau Toba-2009 kemarin. Regamanan khazanah budaya Indonesia tampak mewarnai pesta Danau Toba. Wahyu berharap, semua kesenian daerah yang berkembang di berbagai daerah di Sumatera Utara hendaknya mendapat perhatian pemerintah. ‘’Pemerintah harus mengambil tindakan nyata dalam pembinaan kesenian daerah yang tumbuh. Jangan kecolongan, hilang atau diklaim orang lain baru ribut-ribut,’’ kata Wahyu. Menurut Wahyu, tampilnya Reog Ponorogo di Pesta Danau Toba sekaligus sebagai jawaban atas klaim Malaysia yang menyebut reog sebagai kesenian mereka.
Menyangkut dengan kehidupan kesenian di daerah, Wahyu Purnomo mengatakan, bahwa pihaknya selaku pengelola Paguyuban Walibudyo tidak hanya memiliki reog, tapi juga beberapa kesenian Jawa lainnya, seperti kuda kepang, angguk, wayang kulit sampai campur sari. “ dengan kesenian ini, maka keterampilan generasi muda terhadap kesenian lokal (tradisi ) tidak dikuatirkan menghilang,” jelas Wahyu lagi.
Dalam pengembangan kelompok kesenian lokal di Desa Kolam, Percut Sei Tuan, Deli Serdang itu. Paguyuban Walibudoyo dikelola oleh sebuah tim. Dalam struktur organisasi disebutkan penasehat adalah Abdul Jalil, Ketua Wahyu Purnomo, Wakil Ketua Suparno, Sekretaris Inu, dan Bendahara Sujariono.
Bagi masyarakat yang memerlukan penampilan kesenian Jawa ini bisa mengontak nomor 061-76663006, 0811656213 atau 081370533093. (gia)
PARTISIPASI: Kesenian Reog Ponorogo dari Desa Kolam, Percut Sei Tuan, ikut meramaikan Pesta Danau Toba di Parapat.//HS putra/sumut pos
(Artikel dikirim oleh Bapak Wahyu Purnomo via email pawargo(at)gmail.com)
 |
| Amin – Ida (ADA) |
Segenap Team Ponorogozone.com
Mengucapkan Selamat atas terpilihnya
Bapak Amin, SH. Dan Ibu Yuni Widyaningsih, SH.
Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo
Masa Bakti 2010 – 2015
Semoga dalam kepemimpinannya membawa berkah kepada warga Ponorogo secara menyeluruh. Amin.
Beberapa waktu sebelum pemilihan dilaksanakan, JTV pernah menayangkan secara langsung Debat Publik Pemilukada Ponorogo 2010. Dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan bertanding pada tanggal 04 July 2010. rencana kerja dalam 5 tahun kedepan disampaikan secara lugas oleh para calon, debat ringan yang dimoderatori oleh para tokoh masyarakat Ponorogo menambah suasana semakin hangat. Hal ini tentu menentukan pandangan masyarakat tentang bagaimana sosok pemimpin mereka kedepan.
Baiklah, pemilihan telah usai. Saatnya yang terpilih untuk memberikan pelayanan kerja semaksimal mungkin untuk kesejahteraan Kabupaten Ponorogo dan tentunya masyarakat.
Bila sedulur POzone mengamati Debat Publik kemarin, kalau tidak salah ada salah satu pertanyaan tentang pengembangan pariwisata Kabupaten Ponorogo. Ikon wisata Kota Ponorogo adalah Reyog. Kesenian ini telah mendunia dan diterima oleh semua kalangan masyarakat. Pertanyaannya adalah ” Bila anda menjabat sebagai Kepala Daerah Ponorogo, apa yang akan anda lakukan untuk melestarikan Kebudayaan Reyog??? ” (CMIIW)
Saat itu pasangan no. 2 (ADA) menyampaikan jawaban, “kami akan bangun kampung reyog”
Sebuah wahana untuk mengenalkan kebudayaan khas Ponorogo ini kepada wisatawan dan generasi muda Ponorogo.
Hmmm, sepertinya ini menarik untuk ditindak lanjuti. Mungkin dapat kita bayangkan seperti apa, bagaimana seadainya benar-benar terealisasikan. Aneka macam perangkat, pengrajin, bukti sejarah, biografi tokoh-tokoh reyog Ponorogo dalam perkembangannya dll.
Mari kita tunggu bagaimana tindak lanjut dari Pak Amin dan Bu Ida tentang KAMPUNG REYOG.
Pawargo.com – Kemarin (06/07) adalah hari yang bersejarah bagi saya karena saya ketemu dengan seorang tokoh yang luar biasa. Pada waktu itu saya mau perjalanan pulang dari tempat usaha (Balong) saya tiba-tiba di jalan saya ketemu orang berjalan membawa tas besar yang di atasnya ada tulisan jalan kaki keliling indonesia. Rasa penasaran membuat saya untuk kembali dan menghentikan langkahnya. Sayangnya hanya sebentar saya ngobrol dengan beliau. Hanya satu dua pertanyaan saja yang saya tanyakan kepada beliau. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada beliau, saya tidak bisa memberikan oleh-oleh atau cindera mata untuk penghormatan kepada beliau tapi hanya sedikit uang yang bisa saya berikan semoga ini bermanfaat bagi beliau. (sumber : Dwi Nurcahyono)
Mari kita cari tahu siapakah sosok bernama Pak Slamet ini…???
Pria berusia 50 tahunan ini memulai perjalanan mengelilingi Indonesia berangkat dari Kota Malang pada tahun 2009. Ratusan kota sudah terlewati dengan penuh semangat beliau untuk berkeliling Indonesia dengan berjalan kaki. Dia mengaku berjalan sendiri hendak menelusuri wilayah Indonesia sendirian bermodalkan sebotol minuman dan ditemani oleh
bendera Indonesia dan bendera media Tipikor Kota Malang. Surat tugas yang dikeluarkan atas nama Slamet dari Nurdin Tarigan, pemimpin Redaksi majalah Tipikor melihat Bukti bahwa dia telah melalui satu wilayah harus menemui pimpinan daerah setempat dan meminta tandatangan serta stempel instansi tersebut dalam beberapa buku tandatangan yang di spesialisasikannya dalam kelompok Gubenur, Camat, Lurah/Kepala Desa, dan buku Penolakan. Hanya saja, dia mengeluhkan karena berpakaian seadanya dan sandal jepit, hanya menemui Satpam atau Pol PP yang menghadang di pintu gerbang. Pengalamannya menelusuri Indonesia mengajarinya karakter semua orang. Saat ditemui di Hotel Padma, tempat Ia bermalam yang difasilitasi oleh seseorang yang mungkin dikatakan cukup aneh bahkan dinilai cukup gila oleh pegawai hotel Padma pada saat itu karena memesan kamar untuk Seorang Slamet dan masih ingin mengobrol lebih banyak dengan orang yang berpenampilan dapat dibilang dan dinilai orang gila, namun sang pemberi tempat bermalam menilai ada satu insting pada saat awal bertemu, slamet adalah orang yang aneh bahkan mirip seperti orang gila, dia juga orang unik yang sebenarnya memiliki kelebihan yang tidak disadari oleh orang pada umumnya. dikarenakan kegiatan dan impian yang sangat mustahil untuk dilakukan oleh orang normal pada umumnya. bagi sang pemberi tempat bermalam hanya mengutip satu pesan untuk mengartikan kelebihan yang dimiliki oleh Slamet, yaitu
Tidak ada Gunanya mengaku benar, Hanya berlaku benar lah obat dari segala pendapat. (Dikutip dari Tarakankota.go.id)
Bagi masyarakat yang awam menganggap beliau adalah orang gila yang berkhayal untuk jalan-jalan keliling Indonesia saja, tetapi hal itu tidak bagi saya, karena saya sendiri melihat bukti nyata dari beliau.
Saya sempat bertanya kepada pak Slamet, saya bertanya :
“Pak, boleh tau apa isi tas bapak?”
beliau menjawab “tas ini berisi buku-buku petunjuk yang saya dapatkan dari masing-masing lurah & Pembakal, buku-buku yang saya dapatkan ini menjelaskan tentang karakter masyarakat kota yang saya singgahi”, lalu saya diperlihatkan salah satu buku yang beliau bawa yaitu sebuah buku catatan beliau yang isinya berupa catatan-catatan pengesahan dari masing-masing lurah dikota-kota yang pernah beliau singgahi, lengkap berupa tulisan tangan yang berbeda-beda, tanda tangan lurah yang beda disertai stempel kelurahan atau kecamatan mana saja yang beliau singgahi.
Saya sempat kaget melihat hal itu, ini sah menurut saya.
Setelah itu juga saya bertanya “Berapa berat tas yang Bapa bawa?”
beliau menjawab “Coba kamu angkat sendiri !”
setelah saya coba ternyata berat tas yang beliau bawa lebih dari 10kg, hoooouuuuh………..berat sekali…….dengan perjalan yang sudah melebihi 1 tahun 1/2. Saya bertanya kembali “siapa yang meberi modal perjalanan bapak?”
beliau menjawab: “tidak ada, cuma saya mendapatkan bantuan-bantuan sukarela dari lurah-lurah yang saya singgahi”. Tambah berat saja tantangan beliau……
tapi beliau melakukan perjalanan ini bukan untuk mecahin rekor / apa saja, cuma berniat untuk cinta alam Indonesia saja. Waktu saya menjumpai beliau yang ingin keliling Indonesia dengan berjalan kaki tersebut….saya melihat beliau sangat optimis bisa melakukannya walau hanya dengan alas kaki berupa sendal, baju kusut dan butut, dan rambut yang sudah memutih. Beliau sudah hampir seluruh pulau Jawa beliau singgahi,tetapi tidak untuk daerah pedalaman, beliau berniat untuk melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke dengan berjalan kaki.
Setelah saya sempat terdiam beberapa saat menatap beliau yang sedang melepas lelah, beliau pun berpamitan kepada kami dan beliau berkata ” Saya permisi mau melanjutkan perjalanan saya, jadi kalian kalau mau coba silahkan!!!!!saya G nyuruh ya……….
setelah beliau berjalan dan mengangkat tasnya yang mempunyai beban 10kg lebih tersebut, Qhanya dapat mendoakan dan memberi semangat kepada beliau, dan saya sendiri merasakan semangat beliau yang penuh ambisi. (dikutip dari jalankakikelilingindonesia.blogspot.com)
*Buat para pembaca yang menjumpai Pak Slamet dimana pun cepat abadikan dan bantu beliau sebisa kamu. dan bagi yang tau link untuk mendaftarkan beliau ke MURI tolong bantuannya, karena orang seperti beliau layak untuk mendapat award.
Pawargo.com – Makanan tradisional yang berbahan kacang tanah, cabai, dan aneka rempah-rempah ini, di kota Ponorogo sangat diminati oleh sebagian masyarakat. Sepiring nasi ditambah sayuran yang telah direbus dan siraman sambal kacang biasa di sebut dengan Nasi Pecel. Makanan khas Indonesia yang telah tersebar di seluruh penjuru dunia. Rasa pedas dari sambal pecel merupakan daya tarik utama bagi anda pecinta masakan pedas. Dalam penyajiannya, Nasi Pecel biasa disajikan di piring. Kalau di Ponorogo ada yang paling terkenal, nasi pecel pincuk, yaitu nasi pecel yang disajikan dengan menggunakan daun pisang yang dibentuk mirip kerucut di salah satu ujungnya.

Makanan di Kota Ponorogo memang terkenal dengan harga yang relatif murah. Bila anda berkunjung ke Ponorogo tidak usah kawatir dengan anggaran konsumsi anda. Misalnya, dikantong anda hanya tersisa Rp. 5000,00 tak perlu cemas untuk beli makan siang ato malam anda.
Di Kecamatan Balong, ada sebuah warung nasi pecel yang menjajakan Pecel lengkap dengan rempeyek, gorengan (tempe, pia-pia, lentho dll), sampai yang namanya sempat terkenal di pertengahan tahun 2008, Sate tahu tersedia bagi anda yang gemar berkelana kuliner Ponorogo. Warung pecel ini buka dari pukul 00.00 – 03.00 WIB, tempatnya di pojok sebelah timur perempatan Balong.
Baru tahu nieh, setelah tadi malam makan bareng di Brandos Internet dan Hotspot Area. Jadi tertarik untuk mengabadikan dalam sebuah topik. heheheh
Komentar terbaru